Meraup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Batu Akik

Sejak tahun 2014 lalu, ada tren yang berbeda bila kita berkunjung ke pameran-pameran bisnis UMKM. Apalagi bila pameran itu berhubungan dengan industri kerajinan, maka kita pasti akan melihat stand pameran yang menawarkan kerajinan batu akik.

Ya, kerajinan batu akik saat ini memang sedang mengalami trend di masyarakat. Ini bisa terlihat di setiap pameran stand batu akik selalu dikerumuni pengunjung. Kita juga bisa melihat komunitas-komunitas pencinta batu akik juga bermunculan di berbagai daerah. Dan yang sangat mudah ditemui adalah aktifitas pencinta batu akik, baik itu dalam grup atau fan page Facebook yang begitu aktif.

Hal senada juga diungkapkan oleh pelaku bisnis batu akik di Jakarta Gems Center (JGC), Rawa Bening, Jakarta Timur, seperti dikutip dari Kompas.com Sabtu (31/1/2015), “Mulai ramai tahun 2014. Awalnya jenis Batu Bacan yang ramai, baru merembet ke mana-mana seperti Pacitan, Kladen, dan lain-lain. Seperti jenis Kladen kalau dulu harganya di bawah, sekarang bisa naik sampai Rp 100 ribu,” kata Uje seorang pedagang batu akik di Jakarta Gems Center (JGC).

Omzet yang didapatkan Uje mencapai 4 juta per hari, bahkan bisa 25 juta pada hari Sabtu dan Minggu.

Senada dengan Uje, Haji Toto yang saat ini menjabat Ketua Harian Asosiasi Pedagang Batu Perhiasan di JGC mampu meraih omzet Rp 100 juta – Rp 200 juta sebulan.

“Bisnis batu akik itu bisa ramai sekali, bisa enggak. Rata-rata sebulan bisa lah Rp 100 – 200 juta. Tapi kalau punya produk bagus bisa langsung laku 100 juta. Kemarin saja saya baru jual bahan Batu Bacan 5 kg seharga Rp 500 juta,” ungkap Haji Toto kepada Kompas.com.

Selain membidik pasar lokal, pelaku bisnis batu akik ini juga menyasar pasar ekspor utamanya Tiongkok. Masih menurut Haji Toto omzet ekspornya hampir sama dengan omzet lokal. “Omzetnya itu hampir sama dengan jualan di lokal yaitu Rp 30 juta per 3-4 bulan,” jelas Haji Toto yang juga menjual batu-batu akik berukuran besar.

Tetapi bisnis batu akik ini ternyata memiliki kendala sehingga masih tertinggal dari negara tetangga, Thailand, dalam hal teknologi pemrosesan. Saat ini di Indonesia belum ada alat canggih untuk melakukan pemrosesan batu akik. Di Thailand, pengrajin telah memiliki alat yang canggih sehingga mereka mampu membuat batu akik dengan desain yang lebih bagus.

Dengan alat yang harganya diatas lebih dari 1 milyar, saat ini pengrajin Indonesia belum mampu untuk memilikinya. Selama ini pengrajin batu akik Indonesia mengandalkan peralatan modifikasi dengan harga 6 jutaan, yang tentu saja hasilnya kalah jauh dengan peralatan canggih yang dimiliki pengrajin dari Thailand.

Sebenarnya untuk kualitas batu akik Indonesia tidak kalah dengan batu-batu dari negara asing, seperti batu zamrud dari Kolombia. Salah satu batu alam Indonesia yaitu Batu Bacan bisa bernilai hingga ratusan juta untuk batu yang sudah bagus bersih, kristal, dan warnanya oke.

Kendala lain bisnis batu akik adalah untuk pasar ekspor, proses bea cukai yang masih memerlukan waktu lama untuk turunnya ijin ekspor juga menghambat bisnis batu akik ini.

– See more at: http://tangandiatas.com/meraup-omzet-ratusan-juta-dari-bisnis-batu-akik/#sthash.wGKeDtoT.dpuf