So Simple, Unpredictable

Goblok!
Kalau saya diminta untuk menyebut satu kata yang paling sering disebut oleh oom Bob Sadino, satu kata itulah jawabannya. Goblok! Dan beliau tahu persis kepada siapa satu kata itu diarahkan. Bertahun-tahun mendampingi beliau dalam banyak seminar, saya jadi sedikit tahu salah satu kriteria orang yang pantas dapat ucapan itu : orang yang banyak pengetahuan tapi sedikit bertindak!

Coba baca mottonya yang tertulis dalam bio akun twitter resminya @b0bsadin0. Melangkah tanpa perlu tujuan. Memiskinkan diri, tapi gagal miskin. Aku kerja nikmat, orang lain bilang kerja keras. It works … Mungkin seperti motto presiden idolanya, Jokowi. Kerja, kerja, kerja …

*     *     *     *    *
19 Oktober 1997. Tanggal itu masih saya hafal di luar kepala karena waktunya hanya sehari menjelang ulang tahun saya. Itu lah saatnya saya saling mengenal dengan orang yang aslinya bernama Bambang Mustari, dalam sebuah perkenalan unik. Dalam sebuah seminar, kosa kata paling populer dalam kamus oom Bob Sadino dilontarkan khusus buat saya.  Goblok!

Usai seminar, oom memanggil saya, dan mengajak saya makan bersama. Saat itu beliau ditemani pendamping sekaligus pengemudi kepercayaannya, Poniran. Setiap kali ditanya, sudah berapa lama ikut oom, pak Poniran menjawab : Baru dua puluh tahun. Usai makan, saya tanya nomor ponsel oom. Ahamdulillah, dapat.

Sorenya, saya SMS ke nomor beliau. Sekedar ucapan terima kasih. Ajaib. Malamnya, saat saya makan malam berdua istri, ponsel saya berdering. Layarnya berkedip. Bob Sadino. Saya kirim SMS, dijawab panggilan telepon ajakan bertandang ke rumah beliau. Hebaaaat, pikir saya. Lama-lama saya tahu, panggilan telepon dilakukan karena beliau nggak bisa kirim SMS.

Oom memang sederhana. Celana jeans buntung dan hem lengan pendek adalah ciri kesederhanaan yang jadi trade mark beliau. Siang malam, bahkan ketika udara di Jepang mencapai 12 derajat Celcius. Ponselnya bukan jenis smartphone dengan aneka fungsi. Stupidphone Nokia yang dipakai sehari-hari lebih sering dipakai menerima telepon. Baru beberapa tahun belakangan beliau bisa kirim SMS. Sering kali beliau geleng-geleng kepala saat saya tak lepas BB saat makan, atau celingukan mencari colokan listrik. So simple.

Dengan pakaian ‘kebesaran’ yang sederhana itu, seringkali kawan-kawan dekat saya mengatakan bahwa oom bukanlah orang yang religius. ‘Wong pakaiannya saja tidak menutup aurat!’ Kedekatan yang cukup lama membuat saya menyimpulkan, bahwa oom memang berkehendak dipersepsi seperti itu. Beberapa kali saat di kamar hotel di luar kota, saya ‘pergoki’ beliau sedang shalat. Pakai sarung, duduk di kursi dan shalat dengan isyarat. Unpredictable.

Sore tadi, oom Bob Sadino pergi menghadap Sang Pencipta. Menjelang Maghrib, saat langit semburat merah jingga, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Tenang. Tenang sekali, seakan sedang tertidur. Selamat jalan oom. Semoga Allah ridha.

Zainal Abidin
Direktur Pengawasan dan Kepatuhan TDA
Rektor Institut Kemandirian Dompet Dhuafa
Headmaster SekolahMonyet.com